Posted: January 12, 2009 in Tidak terkategori

nicholas_mccalip_09.jpg

Jam 9 malam lewat sedikit, Walking Street Pattaya masih menggeliat. Perempuan-perempuan asli maupun jadi-jadian (waria) masih beraroma wangi parfum yang belum terdistorsi, belum tercampur aroma lain, seperti rokok ataupun keringat. Wajarlah, karena memang ini adalah jam starting mereka untuk memulai hari-harinya.

Aku berdiri pas didepan Seven Eleven yang padat pengunjungnya, kulihat Monk dengan jubah orange pastinya dengan kepala plontos bejalan dengan kecepatan sedang kearahku. Sepotong nanas manis yang ujungnya masih terbalut plastik, yang aku beli dengan harga 7 bat di kiost buah depan pintu masuk, tak sengaja aku hentikan kunyahannya. Bukan karena monk itu. Sertamerta aku terhenyak karena dibelakang monk itu kulihat seorang waria yang nyaris sempurna menyerupai wanita, melintas kearahku. Aku tercekat. Dulu aku merasa prejudise dengan waria, karena menurutku waria saat itu tidak pantas jadi waria karena sangat tidak pas, gak cocok, ngehe’ banget lah. Tapi kali ini aku malah terbelalak karena waria ini melebihi sejatinya perempuan. Tuhan …

Inilah negeri yang membuat aku tersenyum, meringgis, tapi juga tertawa. Negeri yang perduli setan dengan gender. Negeri yang tak pernah mau tau urusan individu. Sungguh waria mendapat tempat disini tanpa ada olok-olok. Tidak ada sinisme. Tidak ada Intimidasi. Operasi kelamin adalah hal biasa. Dan realisasi dalam kehidupan pun menjadi bagian dari roda ekonomi negara. Luar biasa. lihatlah, pertunjukan sex yang extraordinary performance disini pelakonnya adalah sebagian besar para waria itu. Komoditi pariwisata yang hipocrate terjadi di Jakarta, sepanjang menteng tempat mereka mangkal seolah daerah hina. Tapi begitu sangat realistis di Thailand. Lalu aku bertanya dalam hati. Jika ada laknat dari yang kuasa, siapakah yang dilaknat terlebih dahulu. Apakah negeri yang pemimpinnya banyak melakukan KORUPSI seperti Indonesia dan munafik. Atau Negeri dengan semena-mena mengoperasi alat kelaminnya, lalu dipertontonkan didepan umum. Sungguh mati, hanya tuhanlah yang tahu.

Dari sisi lain pernahkah kita berpikir mengapa mereka ingin menjadi perempuan. Terlepas dari kekurangan fisik yang mereka miliki untuk menjadikan mereka menjadi perempuan. Atau himpitan ekonomo. Atau alasan yang lain. Aku coba menyederhanakan pikiranku. Bahwa perempuan adalah lambang kelembutan. Mungkin juga mereka percaya bahwa perempuan itu adalah venus yang selalu memancarkan cahaya keindahan, keteduhan, kehalusan. Tidak hanya itu, kelembutan, kesabaran, eleganitas, semua itu ada pada diri perempuan. Lalu mereka mengejawantahkan proses psikologis yang ada dalam diri mereka.

Jika itu ada sedikit kebenarannya, lalu mengapa kadang perempuan justu memperolok-olek keistimewaan pada dirinya, sementara waria-waria itu setengah mati untuk mencapai hakikatnya. Tidakkan perempuan harusnya  menjaga keistimewaan dirinya?

Jika iya, tentu tidak akan aku lihat perempuan-perempuan cantik dengan rokok ditangannya, berjejer disepanjang walking street ini. Memamerkan kegenitan. Ah.. aku jadi ingat gadis kecil di dermaga Wat Arun tadi pagi, gadis kamboja yang mungkin baru masuk masa haid, aku perkirakan gadis ini adalah anak dari korban perang Kamboja atau mungkin anak pelarian. Entahlah. Dengan kulit hitam manisnya, dengan senyumnya yang ramah disetiap menerima bat, sebenarnya gadis ini Cantik. Hanya saja karena dia bercokol di pasar dermaga yang kumuh ini, dengan tangannya selalu lengkep dengan air perasan jeruk dagangannya jadilah dia terlihat kumal. Aku berdoa semoga gadis kecil ini kelak tidak akan menjadi bagian dari walking street ini. Ach …

Dan bolehlah aku bertanya lagi pada hatiku. Adakah keistimewaan (Cantik) perempuan selalu menjadi alasan terakhir mereka untuk melego rasa cintanya. Tentu tidak semua perempuan seperti itu. Tapi sejantannya laki-laki, cantik wanita adalah harga mati. Dan perempuan sangat menyadari itu. Ibarat pejuang 45. Cantik bagi perempuan (yang menghambakannya) adalah bambu runcingnya. Senjata berperangnya dalam mengarungi kehidupan. Aku tak paham betul hati perempuan memang, tapi aku dapat merasakan jika mereka memang memiliki jiwa untuk membunuh laki-laki, ya dengan cantiknya. Apalagi untuk laki-laki yang tidak memiliki benteng pertahanan hati ketika panah cupid palsu menancam pada nadi nafsunya. Mampuslah sudah.

Berbagai kejadian terjadi karena bius cantiknya perempuan. Misal untuk perkara masa depan perempuan dengan cantiknya berhak memilih dengan siapa dia harus menambatkan hatinya. Karena ini masalah hidup dan masa depan. Kadang perasaan cinta harus digadaikan. Tutup telinga, pura-pura tidak mendengar. Tutup mata rapat-rapat. Jika suaminya dianggap orang sekitar kurang ganteng jika dibandingkan dengan pacarnya sebelumnya. Atau suaminya dianggap tidak cukup pantas bergandegan dengan cantiknya. Perduli Kalong mau pulang pagi, yang penting masa depan terjamin.

Lalu, demi gengsi dan tidak mau dianggap kurang gaul. Maka perempuan dengan cantiknya menjadi komoditi untuk menutupi status sosial yang berbanding terbalik dengan konsumerisme yang dilakoninya. Maka tak jarang, pacaran atau pacar sejati tidak pernah ada. Maka lupakan status sosial itu. Asal tidak ingin dianggap malu ketika hang out maka teman laki-laki yang ganteng menjadi pendampingnya. Tapi demi mencukupi kebutuhan pribadi yang biayanya tdk sedikit, maka tak segan-segan jika ingin pergi ke butik di mall atau tempat publik lainnya maka pria yang berkantong tebal, walah dengan tampang yang tidak sepantasnya berada digandengannya.

Dan dengan cantiknya pun perempuan berharap bisa menaklukkan hati laki-laki yang menurutnya sulit untuk ditaklukkan. Yang hanya bisa ditaklukan dengan cantiknya. Padahal laki-laki itu adalah singa pejantan yang siapa mengoyak-ngoyak zebra yang cantik. Bukannya berhasil menakukkan singa yang di dapat. Tapi malah luka yang dalam yang ditelan. Pedih yang terperih.

Dan tak jarang dengan cantiknya perempuan mampu memberikan kekuatan yang maha dashyat kepada lelaki-lelaki yang patah sayapnya karena cinta. Walau kadang perempuan tidak pernah paham itu. Padahal tidak semua laki-laki selalu ingin memiliki cantiknya cukup dengan auranya saja. Tapi masih saja aroganitas selalu menjelma dalam sikapnya.

Sungguh cantiknya perempuana adalah pohon penyejuk kesepian. Obat dikala penyakit jiwa yang fluktuatif, yang selalu siap menggroggoti kapan saja. Perempuan adalah teman sejati yang telah diciptakan tuhan. Tak salah, bagiku perempuan adalah pohon harmonisasi hidup. Daunnya adalah obat Paling mujarab dalam kejiwaan dikala sepi.  Akarnya adalah teman yang paling bisa menterjemahkan maunya laki-laki dikala senang ataupun susah. 

Dapat dicermati pada laki-laki yang berada dalam kesendirian yang memuncak. Sepi hatinya laksana dinginnya salju yang menembus tulang belikat, yang mencoba mencari sebuah “pengaduan” yang terbaik yang dia miliki,  mencari tempat pelarian yang bisa menikam kesepian itu! lalu mencoba mematikannya! lalu berharap akan ada lega?

Namu carilah tempat itu. Dimana pun itu. Ruang kamar, rumah tetangga, mall, pasar, stadion, pantai, tengah laut, gunung, pedesaan, ke luar negeri, naik Himalaya, Alaska, atau mungkin umroh. Pun andai saja tempat itu berserta isinya bisa menikam sepi itu. Itu hanya sesaat, Sepi itu tidak akan mati kawan. Sepi itu tidak bisa dibunuh. Jiwa yang sepi senantiasa akan terus meraupi wajah-wajah yang romannya sepi meraja. Selagi Kesepian adalah racun dalam setiap jiwa manusia apalagi obatnya belum meresap dalam tubuh. Apalagi bagi manusia yang hatinya tidak bersenyawa dengan sang khaliknya. Sepi adalah Iblis yang akhirnya menjadi dirinya dalam armada persekongkolannya. Tak ubah vitamin c yang cepat meresap di tubuh, begitulah iblis, dia akan cepat merayap, meresapi tubuh, mejilati jiwa-jiwa yang busuk, lalu akan ada langkah menuju labirin-labirin durja, yang didalamnya ada nista dan palsunya cinta. 

Tidak ada jawaban yang paling tepat untuk itu, kecuali kembali kepada perempuan yang mampu merangkul jiwa laki-laki dalam bisikan cinta sejati yang ikhlas. Perempuan yang memiliki hati yang terang, seterang Venus ketika membuka gelap, lalu menutupnya ketika matahari mejelang pagi. 

Perempuanlah yang akan membuat laki-laki pulang ke rumahnya, perempuanlah yang akan mengharmonisasi jiwa laki-laki. Ya, karena perempuan adalah CINTA Itu sendiri.

(Manuskrip dari Pattaya, Maret 2008 – untuk perempuan-perempuan yang bersindikat dengan cantiknya)

Putri dekapan bulan …

Posted: March 6, 2008 in spontanous

71.jpg

aiko chan

Posted: February 11, 2008 in spontanous

Kala itu winter, ketika ari-arimu disobek gunting ruang operasi dan dalam rayuan gugurnya warna-warni bunga sakuralah hingga namamu Aiko Chan bukan Alena seperti ada dalam imaji ibu dulu. Nama pribumi yang biasa saja dan tekesan beraroma cina Sinkek. Ibu abadikan namamu nak, dalam romantisme hidup dan cinta dalam guyuran salju yang kerap membekukan hati ibu. Tapi ingat ya, bahwa kamu lahir dari cinta yang bukan lahir dalam payung kebekuan cinta. Kamu adalah Cinta laksana eratnya kasih ibu kala tangis pertamamu meminta dekap ibu, merayap menuju dada ibu.

Ibu ingatkan bukan hanya asi yang kamu minta nak. Tapi rapatkanlah dadamu pada dada ibu nak…

Ambillah cinta dari detak hati ibumu, cinta yang kelak akan kamu rasakan dalam setiap kehidupan, jangan ambil sisa pedihnya cinta yang dulu ibu punya dan masih tersisa kini …

Jangan kamu menangis jika detak dada ibu tak berpadu indah dan pahami ibu ketika ada airmata ibu jatuh, ini hanya airmata sisa kepedihan ibu, semestinya sudah ibu buang jauh. Semestinya. Tapi entah kenapa masih terasa, seperti kemarin subuh saja. Jangan paksa ibu utk menghampusnya buru-buru ya nak. Biarkan dia berhenti dengan sendirinya, walau harus esok pagi. Air mata ibu ini telah meleleh jauh hari, dalam tangis-tangis cinta, ketika engkau masih dalam bayangan kemustahilan. Biarkan air mata itu dan kamu jangan ikut menangisinya.

Ibu hanya ingin cepatlah besar anakku …

Kita akan cari gulali yg warnanya pink… manis … kita akan tertawa bersama menikmatinya …

Cepatlah besar anakku…

Ibu akan ajarkan berhias, menjadi cantik…  karena cantikmu adalah Asa ibu yang dulu ibu pinta dengan air mata di sebuah pengharapan. Jangan sia-siakan cantikmu dalam perjanjian cinta yang kelak tak mampu engkau korbankan seperti ibu dulu. Hendaknya Cantikmu tak akan ada tangis di malam-malam yang pahit. Cantikmu untuk tersaji dalam sebuah kebenaran …

Cepatlah besar Anakku…

Karena suatu hari nanti ibu akan ajarkan ketulusan cinta yg dulu tidak mampu ibu berikan kepada malam yang dulu ibu khianati…

Sekarang dekaplah ibu… akan ibu ciumi pipimu yang tembem dan biarkan jika ada aliran hangat air mata ibu dipipimu, karena sekarang airmata ini milikmu, anakku …

( Meja kerja, Jakarta 11 Feb 2008, untuk Aiko Chan, baby tercantik yang pernah aku lihat dipermukaan bumi ini… cepat besar …)

sajak-sajak kecil tentang cinta

Posted: December 26, 2007 in Copy Paste

images.jpg

Mencintai angin

Harus menjadi siut

Mencintai air

Harus menjadi ricik

Mencintai gunung

harus menjadi terjal

Mencintai api

Harus menjadi jilat

Mencintai Cakrawala

Harus menebas jarak

Mencintai-Mu

Harus menjelma aku

By : Sapardi Djoko Damono

Jerat Pesonamu

Posted: December 23, 2007 in Copy Paste

images1.jpg

Dalam bening bola matamu

Kutemukan teduh yang kudamba

Kedamaian begitu terasa

Saat dekat denganmu

Lama kutertegun

Dalam jerat pesonamu

Kusadari sejujurnya

Sayangku padamu …

Tlah bersemi dihatiku

(By : Olive Bendon, Nominee of Poetry Competition by Harvest Fans Club 1990, dapat dari google )