Terminal Ledeng, tahun 1996
Hujan deras yang membahanakan kota Bandung, membuatku tidak bisa meneruskan perjalanan menuju Sersan Baijury. Jalan dibilangan ledeng itu tempatku kost, tempat yang jauh memang, karena hanya dengan inilah caranya bisa menghemat uang, menghemat uang harus dilakukan bagi seorang calon mahasiswa kere, dan gak jelas tujuan hidupnya. Dan itu adalah aku.
Hujan yang sangat deras itu, seperti tembakan mortir. Tong… trank… teng… menghajar atap seng teminal ledeng yang penuh sesak dengan muatan orang, karena memang hanya tempat inilah untuk berteduh. Aliaran air yang lama kelamaan membuat parit-parit kecil hingga jatuhnya air ke cucuran atap, membuat tempias dan percikkan dari tanah menjadi merajalelai dijari-jari kaki. Akibatnya, posisi manusia semakin merapat kedalam. Sialnya menjadi sulit untuk bernafas walau ada untungnya, karena dapat menggurangi rasa dingin yang sangat menusuk tulang itu.
Dalam kelompok yang kecil, yang sama-sama terjebak dalam terminal, karena tidak bisa pulang dan tidak berani menembus hujan sungguh sangat mudah mengamati roman manusia. Bahasa tubuh yang dingin, tingkah pola, di terminal ini yang manusianya menjadi bisu, tak ada suara, karena mengapitkan kedua tangan diketik agar lebih hangat sepertinya lebih penting daripada harus banyak bicara. Tapi sungguh, amatilah, berjuta pikiran ada dalam otak manusia ketika mereka sedang diam.
Aku lihat bapak tukang nanas, dengan matanya yang sayu, rambut putih awut-awutan, dengan caping ditangan kanannya, sedang mengamati nanas-nanasnya, sambil mulutnya berkomat-kamit halus. Tukang gorengan yang menutupi kualinya dengan plastik tapi dengan muka yang pias. Dua sosok remaja, putih abu-abu, tetap tertawa walau basah kuyup.
Dan aku. Apa yang aku pikirkan. Tak jauh, pastinya tentang masa depan, sebagai seorang ( rencana ) mahasiswa tentu masa depanlah yang aku pikirkan. Masa depan seperti apa yang aku pikirkan. Karena didalam terminal ini, dengan hujan yang membahana yang kadang-kadang dihadiri dengan gelak petir. Aku tersudut diujang tempat duduk plastik milik tukang penjual tales. Hari yang berat. Hasil UMPTN tidak berpihak padaku. Fakultas yang aku impikan luput dari dambaan. Parahnya lagi, aku harus pulang karena tidak ada biaya untuk kuliah swasta. Walau semangat untuk sekolah masih sangat besar, tapi terpaksa ditikam pelan-pelan. Seiring Gledek pertama yang mebuncah, hatiku retak, dingin menusuk tulang sumsum, dingin yang sangat luar biasa. Bandung Tak Berpihak padaku. Aku pupuskan niatku untuk berlebel mahasiswa Bandung.
Kuingat namanya, Kara, sangat mudah mengingatnya, karena namanya mirip brand santan kelapa, yang pada saat itu sendang booming iklannya ditelevisi. Dia menyenggolku, tak kala temannya bercanda dengannya, yang mengakibatkan dia mengeser posisinya diantara kerumunan manusia diterminal itu, jadi tubuhku tergeser. Akhir terjadi perkenalan cepat. Ketika itu dia menggunakan kaos warna hijau, dengan jeans standar, rambutnya potong pendek, mukanya yang sedikit oval, hidungnya sedang, wajahnya bersih, matanya sedang, tidak sipit dan lebar. Senyumnya indah.
Dia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa terkenal di kota Bandung ini, hatiku jelas ciut, ketika harus memperkenalkan diri sebagai apa. Jelas, bukan gengsi yang dipertaruhkan, tapi lebih dari itu, hasrat untuk menyambung cerita sepertinya telah finist saat itu juga. Sebuah perkenalan yang muskil. Walau hati kecil sebenarnya mendapatkan kesempatan. Halah… harus aku lanjutkan apa tidak perkenal ini. Seketika ada keinginan untuk melanjutkan perkenalan ini.
Singkat cerita, Kara memberikan nomor teleponnya buatku. Tapi aku tidak pernah menghubunginya, pernah sekali dia menelpon rumah kontrakan temanku, dia menanyakan aku, karena waktu itu aku memberikan nomor telp, kontrakakn temanku, karena kost ku tidak ada line telp. Perkenalan itu tidak pernah aku followup, walau jujur itu lah perkenalan pertama dengan perempuan di Kota Parahyangan ini, perkenalan dengan secara jujur aku akui, sebuah perkenalan yang indah, perkenalan yang tanpa nilai tawar. Aku tak mengenal kara, kara tidak mengenalku, tapi sepertinya ada kejujuran didalamnya.
Volume hujan telah berkurang, kini tinggal gerimisnya. Tidak masalah jika ingin menerobosnya, walau langit masih kelam, orang-orang memaksakan untuk tetap mengambil resiko meneros hujan, mungkin karena tidak mau mengambil resiko hujan bertambah besar lagi. Begitu juga dengan Kara dan temannya. Sambil melepas senyum kecil, dia pamit lalu meneros gerimis, dan berlalu dengan angkot Ledeng – Cicahem. Dan akupun ikut menerbos hujan. Dengan berbekal senyum kecil Kara. Aku menghitung langkah, menuju kost.
—- belum selesai akan diLanjut
