justziks’s weblog

Hanya sebuah blog ungkapan hati, tentang hidup, cinta dan asa …

Jangan Nafikan Cinta, ( Ke Bandung Ku Kan Kembali … ) January 12, 2009

Filed under: Tidak terkategori — justziks @ 08:00 +00:00Jan

Terminal Ledeng, tahun 1996

Hujan deras yang membahanakan kota Bandung, membuatku tidak bisa meneruskan perjalanan menuju Sersan Baijury. Jalan dibilangan ledeng itu tempatku kost, tempat yang jauh memang, karena hanya dengan inilah caranya bisa menghemat uang, menghemat uang harus dilakukan bagi seorang calon mahasiswa kere, dan gak jelas tujuan hidupnya. Dan itu adalah aku.

Hujan yang sangat deras itu, seperti tembakan mortir. Tong… trank… teng… menghajar atap seng teminal ledeng yang penuh sesak dengan muatan orang, karena memang hanya tempat inilah untuk berteduh. Aliaran air yang lama kelamaan membuat parit-parit kecil hingga jatuhnya air ke cucuran atap, membuat tempias dan percikkan dari tanah menjadi merajalelai dijari-jari kaki. Akibatnya, posisi manusia semakin merapat kedalam. Sialnya menjadi sulit untuk bernafas walau ada untungnya, karena dapat menggurangi rasa dingin yang sangat menusuk tulang itu.

Dalam kelompok yang kecil, yang sama-sama terjebak dalam terminal, karena tidak bisa pulang dan tidak berani menembus hujan sungguh sangat mudah mengamati roman manusia. Bahasa tubuh yang dingin, tingkah pola, di terminal ini yang manusianya menjadi bisu, tak ada suara, karena mengapitkan kedua tangan diketik agar lebih hangat sepertinya lebih penting daripada harus banyak bicara. Tapi sungguh, amatilah, berjuta pikiran ada dalam otak manusia ketika mereka sedang diam.

Aku lihat bapak tukang nanas, dengan matanya yang sayu, rambut putih awut-awutan, dengan caping ditangan kanannya, sedang mengamati nanas-nanasnya, sambil mulutnya berkomat-kamit halus. Tukang gorengan yang menutupi kualinya dengan plastik tapi dengan muka yang pias. Dua sosok remaja, putih abu-abu, tetap tertawa walau basah kuyup.

Dan aku. Apa yang aku pikirkan. Tak jauh, pastinya tentang masa depan, sebagai seorang ( rencana ) mahasiswa tentu masa depanlah yang aku pikirkan. Masa depan seperti apa yang aku pikirkan. Karena didalam terminal ini, dengan hujan yang membahana yang kadang-kadang dihadiri dengan gelak petir. Aku tersudut diujang tempat duduk plastik milik tukang penjual tales. Hari yang berat.  Hasil UMPTN tidak berpihak padaku. Fakultas yang aku impikan luput dari dambaan. Parahnya lagi, aku harus pulang karena tidak ada biaya untuk kuliah swasta. Walau semangat untuk sekolah masih sangat besar, tapi terpaksa ditikam pelan-pelan. Seiring Gledek pertama yang mebuncah, hatiku retak, dingin menusuk tulang sumsum, dingin yang sangat luar biasa. Bandung Tak Berpihak padaku. Aku pupuskan niatku untuk berlebel mahasiswa Bandung.

Kuingat namanya, Kara, sangat mudah mengingatnya, karena namanya mirip brand santan kelapa, yang pada saat itu sendang booming iklannya ditelevisi. Dia menyenggolku, tak kala temannya bercanda dengannya, yang mengakibatkan dia mengeser posisinya diantara kerumunan manusia diterminal itu, jadi tubuhku tergeser. Akhir terjadi perkenalan cepat. Ketika itu dia menggunakan kaos warna hijau, dengan jeans standar, rambutnya potong pendek, mukanya yang sedikit oval, hidungnya sedang, wajahnya bersih, matanya sedang, tidak sipit dan lebar. Senyumnya indah.

Dia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa terkenal di kota Bandung ini, hatiku jelas ciut, ketika harus memperkenalkan diri sebagai apa. Jelas, bukan gengsi yang dipertaruhkan, tapi lebih dari itu, hasrat untuk menyambung cerita sepertinya telah finist saat itu juga. Sebuah perkenalan yang muskil. Walau hati kecil sebenarnya mendapatkan kesempatan. Halah… harus aku lanjutkan apa tidak perkenal ini. Seketika ada keinginan untuk melanjutkan perkenalan ini.

Singkat cerita, Kara memberikan nomor teleponnya buatku. Tapi aku tidak pernah menghubunginya, pernah sekali dia menelpon rumah kontrakan temanku, dia menanyakan aku, karena waktu itu aku memberikan nomor telp, kontrakakn temanku, karena kost ku tidak ada line telp. Perkenalan itu tidak pernah aku followup,  walau jujur itu lah perkenalan pertama dengan perempuan di Kota Parahyangan ini, perkenalan dengan secara jujur aku akui, sebuah perkenalan yang indah, perkenalan yang tanpa nilai tawar. Aku tak mengenal kara, kara tidak mengenalku, tapi sepertinya ada kejujuran didalamnya.

Volume hujan telah berkurang, kini tinggal gerimisnya. Tidak masalah jika ingin menerobosnya, walau langit masih kelam, orang-orang memaksakan untuk tetap mengambil resiko meneros hujan, mungkin karena tidak mau mengambil resiko hujan bertambah besar lagi. Begitu juga dengan Kara dan temannya. Sambil melepas senyum kecil, dia pamit lalu meneros gerimis, dan berlalu dengan angkot Ledeng – Cicahem. Dan akupun ikut menerbos hujan. Dengan berbekal senyum kecil Kara. Aku menghitung langkah, menuju kost.

—- belum selesai akan diLanjut

 

Langit indah itu. Ketika aku tidak lagi menyapanya … April 28, 2008

Filed under: spontanous — justziks @ 08:00 +00:00Apr

Seringkali aku merapatkan diri di dermaga itu. Bukan saja karena aku ingin menikmati indahnya serabut bias cahaya matahari di langit selatan. Sambil menunggu azan dikumandangkan. Lalu akan ada wudhu dan jamaah.

Lebih dari itu karena hatiku telah berpadu dalam detak nadi dan adrenalin, karena hatiku menemukan estetika pada dirinya. Ya, wanita kecil yang elok rupa itu bisa membuat niat hatiku menuju dermaga itu menjadi bercabang dua. Wanita kecil salah satu jamaah di dermaga itu membuatku terbuai dalam angan cinta.

Wanita kecil yang aku temukan dalam sosok yang angkuh tapi mengairahkan. Penuh seribu tanda tanya . Angkuhnya bisa menghentikan nadi cinta, membunuh kepenatan cinta, dan melelehkan kemustahilan pengkhiatan cinta. Namun senyumnya bisa langsung mengalirkan darah segar di dalam nadi cintamu seketika itu juga, memberikan nutrisi cinta, menyerbakkan bunga-bunga terharum dalam jagat raya. Jelas sekali Wanita kecil ini tak biasa …

Awalnya aku hanya ingin menikmati senyum kecilnya yang amat dashyat itu saja, karena memang aku tak mampu menaklukkan angkuhnya yang bersahaja itu. Tak mengapa. 

Namun estetika bukan hanya milik alam, tapi penggambaranku tentang wanita itu telah melebihi batas logika, aku temukan lebih hal yang luar biasa  pada wanita kecil itu. Tapi aku tak punya senjata utk atau bagimana mengambil hatinya untuk mengungkapkan kepenasaraan hati. Apalagi Ketika angkuh cantiknya mengelayut dihatiku dan tak mampu aku redam. Dansenyum angkuhnya itu tak mampu aku jinakkan. Hatiku pun putus pada bongkol aortanya. Bersemayam dalam diam, dalam kagum rupa, berdiri dalam buai nelagsa. Menerawang tanya.

Suatu masa ketika aku merapatkan diri didekatnya sebelum azan bemula di dermanga. Lalu aku utarakan tentang indahnya dirinya dan berharap akan ada upaya rasa cinta. Ah…  Dia hanya tersenyum pasti namun tak manja. Sungguh sebuah keanggunan untuk sebuah penolakkan yang sah. Lalu aku sadar itu adalah sebuah upaya untuk membunuh kepekaan estetikaku tentang dirinya.

Kini aku merana,  aku tak mampu lagi mengungkapkan kegelisahanku sendiri. Karena wanita kecil itu telah menutup pintu cintanya. Dan seketika kutemukan senyumnya menyeringai dalam manja, dalam peluk matahari yang gagah. Matahari yang selalu menyerabutkan warna indahnya dilangit Selatan itu.

kini aku tak mau lagi merapatkan diri di dermaga itu, aku pun tak mampu lagi menikamati langit indah itu. Aku tak ingin lagi menyapanya. karena Aku telah kalah dengan anggun angkuh cantiknya, karena aku tak diberi kesempatan untuk menyibak cantik anggun angkuhnya.  

Been edited ..

( Mungkin tak akan aku edit lagi… keberantakkan katanya adalah tawanan dari rasa hatiku… makasih pretty little angel untuk senyumnya, kamu berikan lagi racun cinta itu… aku jatuh cinta lagi… )

 

 

 

 

Perempuan adalah cinta itu sendiri March 21, 2008

Filed under: Perjalanan — justziks @ 08:00 +00:00Mar

nicholas_mccalip_09.jpg

Jam 9 malam lewat sedikit, Walking Street Pattaya masih menggeliat. Perempuan-perempuan asli maupun jadi-jadian (waria) masih beraroma wangi parfum yang belum terdistorsi, belum tercampur aroma lain, seperti rokok ataupun keringat. Wajarlah, karena memang ini adalah jam starting mereka untuk memulai hari-harinya.

Aku berdiri pas didepan Seven Eleven yang padat pengunjungnya, kulihat Monk dengan jubah orange pastinya dengan kepala plontos bejalan dengan kecepatan sedang kearahku. Sepotong nanas manis yang ujungnya masih terbalut plastik, yang aku beli dengan harga 7 bat di kiost buah depan pintu masuk, tak sengaja aku hentikan kunyahannya. Bukan karena monk itu. Sertamerta aku terhenyak karena dibelakang monk itu kulihat seorang waria yang nyaris sempurna menyerupai wanita, melintas kearahku. Aku tercekat. Dulu aku merasa prejudise dengan waria, karena menurutku waria saat itu tidak pantas jadi waria karena sangat tidak pas, gak cocok, ngehe’ banget lah. Tapi kali ini aku malah terbelalak karena waria ini melebihi sejatinya perempuan. Tuhan …

Inilah negeri yang membuat aku tersenyum, meringgis, tapi juga tertawa. Negeri yang perduli setan dengan gender. Negeri yang tak pernah mau tau urusan individu. Sungguh waria mendapat tempat disini tanpa ada olok-olok. Tidak ada sinisme. Tidak ada Intimidasi. Operasi kelamin adalah hal biasa. Dan realisasi dalam kehidupan pun menjadi bagian dari roda ekonomi negara. Luar biasa. lihatlah, pertunjukan sex yang extraordinary performance disini pelakonnya adalah sebagian besar para waria itu. Komoditi pariwisata yang hipocrate terjadi di Jakarta, sepanjang menteng tempat mereka mangkal seolah daerah hina. Tapi begitu sangat realistis di Thailand. Lalu aku bertanya dalam hati. Jika ada laknat dari yang kuasa, siapakah yang dilaknat terlebih dahulu. Apakah negeri yang pemimpinnya banyak melakukan KORUPSI seperti Indonesia dan munafik. Atau Negeri dengan semena-mena mengoperasi alat kelaminnya, lalu dipertontonkan didepan umum. Sungguh mati, hanya tuhanlah yang tahu.

Dari sisi lain pernahkah kita berpikir mengapa mereka ingin menjadi perempuan. Terlepas dari kekurangan fisik yang mereka miliki untuk menjadikan mereka menjadi perempuan. Atau himpitan ekonomo. Atau alasan yang lain. Aku coba menyederhanakan pikiranku. Bahwa perempuan adalah lambang kelembutan. Mungkin juga mereka percaya bahwa perempuan itu adalah venus yang selalu memancarkan cahaya keindahan, keteduhan, kehalusan. Tidak hanya itu, kelembutan, kesabaran, eleganitas, semua itu ada pada diri perempuan. Lalu mereka mengejawantahkan proses psikologis yang ada dalam diri mereka.

Jika itu ada sedikit kebenarannya, lalu mengapa kadang perempuan justu memperolok-olek keistimewaan pada dirinya, sementara waria-waria itu setengah mati untuk mencapai hakikatnya. Tidakkan perempuan harusnya  menjaga keistimewaan dirinya?

Jika iya, tentu tidak akan aku lihat perempuan-perempuan cantik dengan rokok ditangannya, berjejer disepanjang walking street ini. Memamerkan kegenitan. Ah.. aku jadi ingat gadis kecil di dermaga Wat Arun tadi pagi, gadis kamboja yang mungkin baru masuk masa haid, aku perkirakan gadis ini adalah anak dari korban perang Kamboja atau mungkin anak pelarian. Entahlah. Dengan kulit hitam manisnya, dengan senyumnya yang ramah disetiap menerima bat, sebenarnya gadis ini Cantik. Hanya saja karena dia bercokol di pasar dermaga yang kumuh ini, dengan tangannya selalu lengkep dengan air perasan jeruk dagangannya jadilah dia terlihat kumal. Aku berdoa semoga gadis kecil ini kelak tidak akan menjadi bagian dari walking street ini. Ach …

Dan bolehlah aku bertanya lagi pada hatiku. Adakah keistimewaan (Cantik) perempuan selalu menjadi alasan terakhir mereka untuk melego rasa cintanya. Tentu tidak semua perempuan seperti itu. Tapi sejantannya laki-laki, cantik wanita adalah harga mati. Dan perempuan sangat menyadari itu. Ibarat pejuang 45. Cantik bagi perempuan (yang menghambakannya) adalah bambu runcingnya. Senjata berperangnya dalam mengarungi kehidupan. Aku tak paham betul hati perempuan memang, tapi aku dapat merasakan jika mereka memang memiliki jiwa untuk membunuh laki-laki, ya dengan cantiknya. Apalagi untuk laki-laki yang tidak memiliki benteng pertahanan hati ketika panah cupid palsu menancam pada nadi nafsunya. Mampuslah sudah.

Berbagai kejadian terjadi karena bius cantiknya perempuan. Misal untuk perkara masa depan perempuan dengan cantiknya berhak memilih dengan siapa dia harus menambatkan hatinya. Karena ini masalah hidup dan masa depan. Kadang perasaan cinta harus digadaikan. Tutup telinga, pura-pura tidak mendengar. Tutup mata rapat-rapat. Jika suaminya dianggap orang sekitar kurang ganteng jika dibandingkan dengan pacarnya sebelumnya. Atau suaminya dianggap tidak cukup pantas bergandegan dengan cantiknya. Perduli Kalong mau pulang pagi, yang penting masa depan terjamin.

Lalu, demi gengsi dan tidak mau dianggap kurang gaul. Maka perempuan dengan cantiknya menjadi komoditi untuk menutupi status sosial yang berbanding terbalik dengan konsumerisme yang dilakoninya. Maka tak jarang, pacaran atau pacar sejati tidak pernah ada. Maka lupakan status sosial itu. Asal tidak ingin dianggap malu ketika hang out maka teman laki-laki yang ganteng menjadi pendampingnya. Tapi demi mencukupi kebutuhan pribadi yang biayanya tdk sedikit, maka tak segan-segan jika ingin pergi ke butik di mall atau tempat publik lainnya maka pria yang berkantong tebal, walah dengan tampang yang tidak sepantasnya berada digandengannya.

Dan dengan cantiknya pun perempuan berharap bisa menaklukkan hati laki-laki yang menurutnya sulit untuk ditaklukkan. Yang hanya bisa ditaklukan dengan cantiknya. Padahal laki-laki itu adalah singa pejantan yang siapa mengoyak-ngoyak zebra yang cantik. Bukannya berhasil menakukkan singa yang di dapat. Tapi malah luka yang dalam yang ditelan. Pedih yang terperih.

Dan tak jarang dengan cantiknya perempuan mampu memberikan kekuatan yang maha dashyat kepada lelaki-lelaki yang patah sayapnya karena cinta. Walau kadang perempuan tidak pernah paham itu. Padahal tidak semua laki-laki selalu ingin memiliki cantiknya cukup dengan auranya saja. Tapi masih saja aroganitas selalu menjelma dalam sikapnya.

Sungguh cantiknya perempuana adalah pohon penyejuk kesepian. Obat dikala penyakit jiwa yang fluktuatif, yang selalu siap menggroggoti kapan saja. Perempuan adalah teman sejati yang telah diciptakan tuhan. Tak salah, bagiku perempuan adalah pohon harmonisasi hidup. Daunnya adalah obat Paling mujarab dalam kejiwaan dikala sepi.  Akarnya adalah teman yang paling bisa menterjemahkan maunya laki-laki dikala senang ataupun susah. 

Dapat dicermati pada laki-laki yang berada dalam kesendirian yang memuncak. Sepi hatinya laksana dinginnya salju yang menembus tulang belikat, yang mencoba mencari sebuah ”pengaduan” yang terbaik yang dia miliki,  mencari tempat pelarian yang bisa menikam kesepian itu! lalu mencoba mematikannya! lalu berharap akan ada lega?

Namu carilah tempat itu. Dimana pun itu. Ruang kamar, rumah tetangga, mall, pasar, stadion, pantai, tengah laut, gunung, pedesaan, ke luar negeri, naik Himalaya, Alaska, atau mungkin umroh. Pun andai saja tempat itu berserta isinya bisa menikam sepi itu. Itu hanya sesaat, Sepi itu tidak akan mati kawan. Sepi itu tidak bisa dibunuh. Jiwa yang sepi senantiasa akan terus meraupi wajah-wajah yang romannya sepi meraja. Selagi Kesepian adalah racun dalam setiap jiwa manusia apalagi obatnya belum meresap dalam tubuh. Apalagi bagi manusia yang hatinya tidak bersenyawa dengan sang khaliknya. Sepi adalah Iblis yang akhirnya menjadi dirinya dalam armada persekongkolannya. Tak ubah vitamin c yang cepat meresap di tubuh, begitulah iblis, dia akan cepat merayap, meresapi tubuh, mejilati jiwa-jiwa yang busuk, lalu akan ada langkah menuju labirin-labirin durja, yang didalamnya ada nista dan palsunya cinta. 

Tidak ada jawaban yang paling tepat untuk itu, kecuali kembali kepada perempuan yang mampu merangkul jiwa laki-laki dalam bisikan cinta sejati yang ikhlas. Perempuan yang memiliki hati yang terang, seterang Venus ketika membuka gelap, lalu menutupnya ketika matahari mejelang pagi. 

Perempuanlah yang akan membuat laki-laki pulang ke rumahnya, perempuanlah yang akan mengharmonisasi jiwa laki-laki. Ya, karena perempuan adalah CINTA Itu sendiri.

(Manuskrip dari Pattaya, Maret 2008 – untuk perempuan-perempuan yang bersindikat dengan cantiknya)

 

Putri dekapan bulan … March 6, 2008

Filed under: spontanous — justziks @ 08:00 +00:00Mar

71.jpg

Seumpama negeri dongeng. Engkau adalah putri kecil yang wajahnya selalu bercahaya, kerling mata yang kenes rupa penuh ceria. Menari, berjalan adalah Lengak-lenggok yang mengemaskan rasa. Putri yang ketika senyum, menawarkan geliat dengan kecantikan tertinggi dalam kastil megah yang halamannya dipenuhi angsa-angsa dalam kolam air mancur yang aduhai eloknya.

Engkau adalah putri yang lelap malamnya berada dalam dekapan bulan … 

( Wismul, 06 Maret 08 – inspired from Vn, x-traordinary girl … )

 

aiko chan February 11, 2008

Filed under: spontanous — justziks @ 08:00 +00:00Feb

Kala itu winter, ketika ari-arimu disobek gunting ruang operasi dan dalam rayuan gugurnya warna-warni bunga sakuralah, hingga namamu Aiko Chan. Bukan Alena seperti ada dalam imaji ibu dulu, nama pribumi yang biasa saja dan tekesan beraroma cina Sinkek. Ibu abadikan namamu nak, dalam romantisme hidup dan cinta dalam guyuran salju yang kerap membekukan hati ibu. Tapi ingat ya, bahwa kamu lahir dari cinta yang bukan lahir dalam payung kebekuan cinta. Kamu adalah Cinta laksana eratnya kasih ibu kala tangis pertamamu meminta dekap ibu, merayap menuju dada ibu.

Ibu ingatkan bukan hanya asi yang kamu minta nak. Tapi rapatkanlah dadamu pada dada ibu nak… 

Ambillah cinta dari detak hati ibumu, cinta yang kelak akan kamu rasakan dalam setiap kehidupan, jangan ambil sisa pedihnya cinta yang dulu ibu punya dan masih tersisa kini …

Jangan kamu menangis jika detak dada ibu tak berpadu indah dan pahami ibu ketika ada airmata ibu jatuh, ini hanya airmata sisa kepedihan ibu, semestinya sudah ibu buang jauh. Semestinya. Tapi entah kenapa masih terasa, seperti kemarin subuh saja. Jangan paksa ibu utk menghampusnya buru-buru ya nak. Biarkan dia berhenti dengan sendirinya, walau harus esok pagi. Air mata ibu ini telah meleleh jauh hari, dalam tangis-tangis cinta, ketika engkau masih dalam bayangan kemustahilan. Biarkan air mata itu dan kamu jangan ikut menangisinya.

Ibu hanya ingin cepatlah besar anakku …

Kita akan cari gulali yg warnanya pink… manis … kita akan tertawa bersama menikmatinya …

Cepatlah besar anakku…  

Ibu akan ajarkan berhias, menjadi cantik…  karena cantikmu adalah Asa ibu yang dulu ibu pinta dengan air mata di sebuah pengharapan. Jangan sia-siakan cantikmu dalam perjanjian cinta yang kelak tak mampu engkau korbankan seperti ibu dulu. Hendaknya Cantikmu tak akan ada tangis di malam-malam yang pahit. Cantikmu untuk tersaji dalam sebuah kebenaran …

Cepatlah besar Anakku…

Karena suatu hari nanti ibu akan ajarkan ketulusan cinta yg dulu tidak mampu ibu berikan kepada malam yang dulu ibu khianati…

Sekarang dekaplah ibu… akan ibu ciumi pipimu yang tembem dan biarkan jika ada aliran hangat air mata ibu dipipimu, karena sekarang airmata ini milikmu, anakku …

( Meja kerja, Jakarta 11 Feb 2008, untuk Aiko Chan, baby tercantik yang pernah aku lihat dipermukaan bumi ini… cepat besar …)

 

sajak-sajak kecil tentang cinta December 26, 2007

Filed under: Copy Paste — justziks @ 08:00 +00:00Dec

images.jpg

Mencintai angin

Harus menjadi siut

Mencintai air

Harus menjadi ricik

Mencintai gunung

harus menjadi terjal

Mencintai api

Harus menjadi jilat

Mencintai Cakrawala

Harus menebas jarak

Mencintai-Mu

Harus menjelma aku

By : Sapardi Djoko Damono

 

Jerat Pesonamu December 23, 2007

Filed under: Copy Paste — justziks @ 08:00 +00:00Dec

images1.jpg

Dalam bening bola matamu

Kutemukan teduh yang kudamba

Kedamaian begitu terasa

Saat dekat denganmu

Lama kutertegun

Dalam jerat pesonamu

Kusadari sejujurnya

Sayangku padamu …

Tlah bersemi dihatiku

(By : Olive Bendon, Nominee of Poetry Competition by Harvest Fans Club 1990, dapat dari google )

 

aku ingin December 23, 2007

Filed under: Copy Paste — justziks @ 08:00 +00:00Dec

images11.jpg

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

By : Sapardi Djoko Damono

 

Daster Cinta, LOVE Suck … ( have been editing ) December 20, 2007

Filed under: spontanous — justziks @ 08:00 +00:00Dec

images9.jpg

Aku dapat menilai diriku sendiri, bahwa aku bukanlah pria yang berharta apalagi berpunya. Maka dalam memberikan sesuatu kepada seorang wanita tidaklah sertamerta. Lebih dari sejauh mana pemberian itu akan menjadi bagian dalam hidupnya, dan membuat aku yang memberikannya menjadi bangga. Bukan sebuah perhitungan materi tapi hatiku lebih suka berbicara dari sebuah proses terjadi pemberian itu. Misal dalam urusan pemberian sesuatu benda dalam upaya pencarian cinta terhadap wanita ataupun sudah terjalin cinta dengan wanita. Kadang kala sifat wanita yang menempatkan diri dalam kewajaran, justru membuatku memaksakan diri untuk memberikan sesuatu yang bernilai rupa benda tanpa harus tertegun, dan tanya. Dan kebalikkannya.

Terimplementasilah itu disuatu perjalanan. Di sebuah toko souvenir, terdapatlah sebuah saran untuk menghadiahkan wanita yang waktu itu menambatkan cintanya padaku. Adalah sebuah daster tidur putih bersih bersulam bunga mawar biru.  Yang kelak aku dapati sebuah makna, walau terasa sepele namun bermagis bangga.

Dan benar akhirnya kudapati sebuah pengakuannya. Ternyata disetiap jelang tidurnya dia akan merasa ditemani sang tercinta, ya disetengah hari disetiap kehidupannya, bahkan lebih, dari malam hingga pagi, didalam kesepiannnya wanita itu tidak merasa sendiri.  Dastar itu menjelma dalam wujud cinta, dan menjadi kesayangannya. Sebuah saran yang brilliant :)

Kerinduan akan cinta yang terhalang jarak dan waktu akan menempatkannya sebagai obat yang paling mujarab yang pernah dia miliki. Dastar dalam bingkisan cinta yang tak pernah terduga, ternyata membuang kemeranaan cinta dimalam-malamnya. Maka kunamakan itu daster cinta :) hahahaha… ngehe’ banget ya :)

Masa lalu. Itulah aku, di rupa yang lain, dalam upaya menjaga perasaan cinta. Kecil, namun sungguh berarti bagiku, saat itu, dan kini dalam upaya pemaknaan saja. Lebih demi hakikatnya dikemudian hari.

Akankah aku bingkiskan lagi bentuk cinta lain dalam rupa yang bermakna sama. Untuk wanita dan cintaku berikutnya.

Ah… I have no idea anymore  …. aku gak tau …. Love Suck….

( jakarta, dalam kontrakkan di gang hijau, tebet, 20 desember 07, tengah malam, buat wm75, jangan engkau kenakan lagi daster cinta itu, karena putihnya telah tercampur benci )

 

dulu, kini, tulus cinta adalah tai kucing … December 20, 2007

Filed under: sentimentile — justziks @ 08:00 +00:00Dec

0261.jpg

Dulu kamu berjanji untuk menegakkan kembali janur kuning yang dulu melengkung, lalu patah

Dulu kamu berjanji untuk memerahkan kembali kebayamu yang pudar warnanya, untuk menjalin lagi rajutnya yang terserabut hina

Dulu kamu berjanji untuk mengembalikan kesia-sia waktu yang masanya berselimut durja

Dulu kamu berjanji untuk membayar sesalnya air mataku yang kini telah menjadi tanah

Dulu di lima belas menit terakhir perjumpaan kita. Kamu berjanji, akan menuntaskan kekeliruan Cinta yang salah. Untuk mengembalikan pada kata hati yang sebenarnya.

Kini hatimu telah putus kata …  kudengar sudah ada asa disana, karena janin cintamu mulai mekar meraja.

Kini tak mungkin lagi aku tunggu asa dan cinta itu …  

Kini pun aku tahu, batas cintamu hanya segitu adanya, tak mengapa.

Kini yang kau titipkan padaku hanya sesal belaka.

Kini aku tahu …

Cinta Tulusmu itu hanya sebuah busuknya kepalsuan yang siap tertawa …

Janji Setiamu adalah kebangkangan Cinta yang tertunda …

Iba dan airmatamu adalah sebuah pelarian dari pemaknaan Cinta ganda.

Jelas sudah ….

Cinta Tulus dan Janji Setiamu adalah taik kucing semata, yang baunya siap memberi bencana …

Kini ku tahu, ternyata engkau belum bisa disajikan kebenaran cinta….

Kini jelas sudah, karena mata dan telingaku tidak tuli dan buta, walau jelas hatiku patah. 

Nyata, engkau telah sandungkan aku pada REALITA Cinta.

Dan Bodohnya aku ….

(dalam gemuruh hujan dan petir jakarta, idul adha 1428h,  buat alenazikhaputri)